Senin, 11 April 2011

Makalah Wacana Narasi


BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia adalah Negara kesatuan kita yang dijaga,dihormati oleh masyarakatnya,Bangsa Indonesia yang beragam suku, budaya dan bahasa namun tetap satu bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa Indonesia.
Sebagai mahasiswa sekaligus bagian dari bangsa Indonesia, sudah sepantasnya kita menjaga nilai-nilai dan makna yang terkandung dalam bahasa kususnya nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa Indonesia
. Untuk menulis sesuatu hal yang menarik kita perlu berfikir. Sebuah paragraf yang menarik,pertama kita harus tau apa itu paragraf. Paragraf merupakan sekelompok kalimat yang mengandung beberapa informasi yang relevan tentang suatu ide. Paragraf yang baik biasanya terpusat pada satu topik kalimat. Ketika kita mempunyai petunjuk untuk mulai menulis, kita dapat menyelesaikan paragraf tersebut dengan sukses. Sebuah kalimat topik akan membantu kita untuk memilih informasi yang relevan.
Dalam bahsa Indonesia begitu banyak jenis paragraf diantaranya terdapat jenis paragraf narasi, Menulis paragraf Narasi merupakan kerangka yang dihubung-hubungkan dengan cerita jadi paragraf narasi adalah karangka yang di temukan dalam sebuah novel, cerpen, dan hikayat yang merupakan kiasan dari pemaparan suatu peristiwa.







B. RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan judul makalah diatas yaitu tentang paragrapf narasi. Maka kita perlu merumuskan masalah agar pembahasan tidak melebar dari konsep pembahasan
1. apa yang dimaksud dengan paragraf narasi?
2. apa saja jenis-jenis paragraf narasi ?
3. apa perbedaan paragraf narasi dengan paragraf lainnya ?
4. apa tujuan dan kegunaan paragraf narasi ?




C. TUJUAN PENULISAN
Makalah ini ditulis dengan tujuan :
1. Mengidentifikasi wacana narasi.
2. Menetukan jenis-jenis wacana narasi
3. Membedakan wacana narasi dengan wacana lainnya.
4. Mengetahui tujuan/ kegunaan dari wacana narasi.





BAB II PEMBAHASAN

Narasi dapat disebut cerita atau kisahan. Narasi yang berasal dari bahasa Inggris narration merupakan suatu bentik kisahan mengenai peristiwa atau secara kronologis. Tujuan utama narasi adalah untuk menceritakan peristiwa aytau kejadian itu sedemikian rupa sehingga menimbulkan pengertian-pengertian atau asosiasi yang merefleksikan interpretasi atau penafsiran penuturnya atau penulisnya. Dalam buku lain disebutkn bahwa tujuan narasi (kisahan) adalah becerita baik berdasarkan observasi dan bersifat menghimpun fakta.
Wacana narasi dapat dibedakan menjadi dua, yakni (1) narasi berplot dan (2) narasi faktual. Yang dimaksud narasi berplot yaitu narasi yang urutan pengisahannya berdasarkan plot atau alur seperti yang terdapat pada cerita fiksi ata cerita rekaan. Menurut Djoko S. Passandaran (1989:37) dalam narasi berplot, pandangan atau gagasan pengarang tentang kehidupan kemanusiaan merupakan faktor pengendali atau penentu: gerak, tingkah laku, atau perbuatan pelaku dipilih, dirancang, dan disusun dengan penuh pertimbangan dan hati-hati untuk melakonkan atau mendramatisasikan gagasan tersebut. Contoh narasi berplot adalah roman, novel, dongeng, hikayat, dan drama. Sedangkan narasi faktual adalah kisahan yang berdasarkan urutan kjadian penting seperti dalam tulisan sejarah yang objektif.

Narasi atau cerita ialah jenis karya tulis yang berkenaan dengan rangkaian peristiwa. Rangkaian ini dapat disusun menurut urutan waktu. Sedangkan peristiwanya dapat berupa kejadian nyata atau khayalan. Narasi ditulis untuk menjawab:”Apa yang terjadi?”
Narasi, juga deskripsi,tergolong jenis karya tulis yang berbentuk fiksi. Wacana yang termasuk narasi antara lain: cerita pendek, cerita bersambung, novellet, novel.
Contoh:
Pada suatu malam yang dingin, ketika aku baru saja membaringkan badanku di tempat tidur, aku mendengar dering telepon. Dengan malas aku bangkit dan mengambil telepon.
- “Disini Roland”,kataku.
- “Bung Roland?” tanya suara dalam telepon itu.
- “Ya, saya sendiri”,balasku.
- “Syukur, kalau begitu.”
- “Ada apa?” tanyaku.
- “Oh, tidak apa-apa. Sekedar omong-omong.”
- “Sekedar omong-omong? Di tengah malam begini?”
- “Ya, saudara keberatan?”
- “Keberatan sih, tidak. Tapi saya pikir saudara terlalu sibuk barangkali, waktu omong-omong saja terpaksa malam-malam begini.”
- “Bukan itu soalnya”,balas suara itu. “Saya, kebetulan lagi piket di kantor, dan teman-teman sudah pada tidur. Saya merasa sepi,lalu saya ingin omong-omong. Pokoknya ngomong itulah. Dengan siapa,saya tidak peduli.”
- “O”, jawabku. “Tapi mengapa saya,yang saudara telepon?”
- “Hanya kebetulan, karena saya mengambil sembarangan nomor. Kalau tadi saya kebetulan mengambil nomor yang lain, yang mungkin penghuninya orang Cina, saya tidak harus omong-omong apa”, katanya sambil ketawa.

Mendengar itu, tahu-tahu saya juga ikut ketawa.

(Dikutip seperlunya dari:
Cerpen Telepon karya Sori
Siregar. HORIZON no.II th.II
Nopember 1967)


Paragraf Narasi
Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian. Dalam karangan atau paragraf narasi terdapat alur cerita, tokoh, setting, dan konflik. Paragraf naratif tidak memiliki kalimat utama.

Perhatikan contoh berikut!
Kemudian mobil meluncur kembali, Nyonya Marta tampak bersandar lesu. Tangannya
dibalut dan terikat ke leher. Mobil berhenti di depan rumah. Lalu bawahan suaminya
beserta istri-istri mereka pada keluar rumah menyongsong. Tuan Hasan memapah istrinya
yang sakit. Sementara bawahan Tuan Hasan saling berlomba menyambut kedatangan
Nyonya Marta.
Paragraf naratif disusun dengan merangkaikan peristiwa-peristiwa yang berurutan atau secara kronologis.
Tujuannya, pembaca diharapkan seolah-olah mengalami sendiri peristiwa yang diceritakan. Contoh : novel, cerpen, drama



` Paragraf narasi dibedakan atas dua jenis, yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif.
Paragraf narasi ekspositoris berisikan rangkaian perbuatan yang disampaikan secara informatif sehingga pembaca mengetahui peristiwa tersebut secara tepat.
Contoh :
Siang itu, Sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah
kontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan klarinet, meniupkan garis melodi
utamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu masuk ke tangsi, mengiringi
Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di Perumahan
Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “Mars Jalan” yang dirasa tepat untuk
mengantar Ahmad, sang pengantin….

Paragraf narasi sugestif adalah paragraf yang berisi rangkaian peristiwa yang disusun sedemikian rupa seehingga merangsang daya khayal pembaca, tentang peristiwa tersebut.

Contoh :
Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang memungut pedang itu dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi, semuanya gagal.


Cara membuat karangan narasi tidak terlalu sulit karena karangan jenis ini bisa diambil dari pengalaman pribadi sang penulis, sering kali dalam bentuk cerita. Ketika sang penulis mengungkapkan apa yang ada dipikirannya maka harus bisa untuk memasukkan semua konvensi cerita: plot, tokoh, setting, klimaks, dan akhir cerita. Karangan narasi harus sesuai alur sehingga dapat membuat pembaca merasakan langsung dari cerita yang dibaca tersebut.

Sebelum membuat karangan narasi, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan yaitu:
• Diceritakan dari sudut pandang tertentu.
• Membuat dan mendukung suatu sudut pandang.
• Diisi dengan detail yang tepat.
• Menggunakan kata kerja yang jelas.
• Menggunakan konflik dan urutan cerita.
• Dapat menggunakan dialog.
Tujuan dari karangan naratif adalah untuk menggambarkan sesuatu. Banyak siswa beranggapan bahwa karangan narasi seperti dalam pembuatan makalah. Sementara informasi dalam karangan ini adalah dasar untuk bentuk lain dari menulis. Contoh karangan narasi adalah sebuah “buku catatan kegiatan kerja” yang tidak hanya sebgai buku catatan biasa, tetapi juga mencakup karakter, tindakan mereka, plot dan beberapa adegan yang terjadi selama kegiatan berlangsung. Artinya, itu adalah gambaran tentang “apa yang terjadi di buku itu”.
Sebuah karangan naratif menceritakan apa saja yang dialami oleh penulis, baik apa saja yang terjadi disekitarnya. Bisa tentang cinta, masyarakat, lingkungan dan sebagainya. Dengan kata lain, karangan narasi sering menggambarkan tujuan penulis atau sudut pandang yang kemudian diekspresikan melalui buku atau artikel.Untuk membuat karangan narasi, dimulai dengan pemilihan masalah. Setelah masalah dipilih, penulis harus menjaga tiga prinsip dalam pikiran.

1. Jangan lupa untuk melibatkan pembaca dalam cerita. Adalah jauh lebih menarik untuk benar-benar menciptakan sebuah insiden untuk pembaca daripada hanya menceritakan tentang hal itu.
2. Cari generalisasi, yang mendukung cerita. Ini adalah satu-satunya cara pengalaman pribadi sang penulis akan mengambil makna bagi pembaca. generalisasi ini tidak harus meliputi umat manusia secara keseluruhan, yang dapat perhatian penulis, pria, wanita, atau anak-anak dari berbagai usia dan latar belakang.
3. Ingat bahwa meskipun komponen utama dari narasi ceritanya, rincian harus hati-hati dipilih untuk mendukung, menjelaskan, dan meningkatkan cerita.Daalam menulis esai naratif Anda, menjaga konvensi berikut dalam pikiran.
menulis esai naratif Anda, menjaga konvensi berikut dalam pikiran.
• Narasi umumnya ditulis dalam orang pertama, yaitu, dengan menggunakan aku atau saya. Namun, orang ketiga (dia, dia, atau itu) juga bisa digunakan.
• Narasi mengandalkan beton, rincian sensorik untuk menyampaikan maksud mereka. Rincian tersebut harus membuat efek, bersatu kuat, kesan dominan. Informasi lebih lanjut tentang penggunaan rincian spesifik tersedia pada halaman lain.
• Narasi, sebagai cerita, harus mencakup konvensi cerita ini: plot, termasuk setting dan karakter, klimaks, dan akhir sebuah.



Paragraf narasi merupakan salah satu jenis paragraf yang mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa berdasarkan urutan waktu. Paragraf narasi terdiri atas narasi kejadian dan narasi runtut cerita.

1. Paragraf narasi kejadian adalah paragraf yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa.
2. Paragraf narasi runtut cerita adalah pola pengembangan yang menceritakan suatu urutan dari tindakan atau perbuatan dalam menciptakan atau menghasilkan sesuatu.

Berdasarkan jenis cerita, narasi dibagi menjadi dua macam:

1. Narasi yang mengisahkan peristiwa yang benar-benar terjadi atau cerita nonfiksi. Misalnya, cerita perjuangan pahlawan, riwayat atau laporan perjalanan, biografi, dan autobiografi.
2. Narasi yang hanya mengisahkan suatu hasil rekaan, khayalan, atau imajinasi pengarang. Jenis karangan ini dapat dilihat pada roman, cerpen, hikayat, dongeng, dan novel. Jenis karangan narasi ini disebut karangan narasi sugestif. Narasi sugestif selalu melibatkan daya khayal atau imajinasi karena sasaran yang ingin dicapai yaitu kesan terhadap peristiwa.


Contoh Paragraf Narasi
Berikut akan kami berikan contoh dari paragraf Narasi, baik contoh paragraf narasi kejadian maupun contoh paragraf narasi runtut cerita.


Contoh Paragraf Narasi Runtut cerita :

LAHIR di Yogyakarta, 18 Septemberr 1943, Kuntowijoyo sudah bergelut dengan kegiatan tulis-menulis sejak 1958 ketika ia masih duduk di kelas tiga SMP. Cerpen-cerpen awalnya muncul di majalah Sastera dan Horison. Meraih gelar doktor dalam bidang sejarah pada Universitas Columbia (1980) dengan disertasi berjudul Social in An Agrarian Society Madura 1 1 (kini dalam proses penerjemahan ulang untuk diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia), Kunto dikenal sebagai sejarawan sekaligus sastrawan andal. Beberapa karya sastranya sudah dibukukan, di antaranya Dilarang Mencintai Bunga- Bunga (kumpulan cerpen); umput- umput Danau Bento (1968) dan Topeng (1973): naskah drama; Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Pasar (1972), dan Khotbah di Atas Bukit (1976): novel; Isyarat dan Suluk Awang- wung (kumpulan puisi). Buku-bukunya di bidang sejarah, sosial, dan budaya juga telah terbit, seperti Dinamika Sejarah mat Islam Indonesia (1985); Budaya dan Masyarakat (1987); Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi (1991), dan adikalisme Petani (1993). Tiga di antara sekian banyak cerpennya yang dimuat di Kompas terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dalam tiga tahun berturut-turut, yakni Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1995); Pistol Perdamaian (1996); dan Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997). Ketika novel ini dalam prosespenerbitan, Kuntowijoyo yang kini tercatat sebagai Koordinator Mata Kuliah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM tengah mempersiapkan naskah pidato untuk upacara pengukuhan dirinya sebagai guru besar tetap pada Fakultas Sastra UGM.






Contoh Paragraf Narasi Kejadian :

DALAM setting budaya Jawa berikut warna Islam yang selalu mewarnai karya-karya Kuntowijoyo, tokoh Abu Kasan Sapari tumbuh dalam suatu proses dialektika dengan zamannya ketika ”bumi gonjang-ganjing, langit megap-megap”. Sebagai pegawai di sebuah kecamatan di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah, Abu berkesempatan tampil sebagai saksi sejarah menjelang tumbangnya kejayaan sebuah orde yang kemaruk. Orde Baru! Sampai akhirnya tanda-tanda zaman itu muncul, isyarat bahwa pemerintah yang tengah berkuasa akan segera ambruk. Lalu, pada suatu malam pada musim kemarau, hujan lebat – oleh masyarakat dinamakan hujan salah musim – itu datang disertai angin ribut. ”Pagi hari, hujan dan angin reda. Orang-orang keluar ke terminal. Beringin itu tumbang! Pohon yang selama ini tegak menghadapi musim hujan dan angin itu terbujur, akar-akarnya mencuat di atas tanah . . . .”


Narasi nonfiksi adalah narasi yang mengisahkan peristiwa-peristiwa faktual, suatu yang ada dan benar-benar terjadi. Narasi ini disebut juga narasi ekspositori. Contohnya biografi dan laporan perjalanan. Perbedaan yang lebih jelas antara narasi fiktif dan nonfiktif adalah sebagai berikut:

Narasi Fiksi
1.Menyampaikan makna atau amanat secara tersirat sebagai sarana rekreasi rohaniah.
2.Menggugah majinasi.
3.Penalaran difungsikan sebagai alat pengungkap makna, kalau perlu dapat diabaikan.
4.Bahasa cenderung figuratif dan menitikberatkan penggunaan konotasi.
Narasi Nonfiksi
1.menyampaikan informasi yang memperluas pengetahuan.
2.memperluas pengetahuan atau wawasan.
3.Penalaran digunakan sebagai sarana untuk mencapai kesepakatan rasional.
4.Bahasanya cenderung informatif dan menitikberatkan penggunaan makna denotasi.
Telah dikemukakan, bahwa untuk menyajikan suatu analisa proses dapat pula dipergunakan teknik narasi. Narasi semacam ini dinamakan narasi eksposisi atau narasi teknis, karena sasaran yang ingin dicapai adalah ketepatan informasi mengenai suatu peristiwa yang dideskripsikan. Jadi, sasarannya sama dengan eksposisi, yaitu memperluas pengetahuan orang. Narasi semacam ini dianggap sebagai suatu metode dalam eksposisi, seperti halnya dengan metode klasifikasi, metode definisi, dan lain sebagainya.
Di samping narasi ekspositoris, terdapat juga narasi yang lain yang disebut narasi sugeftif, sejajar dengan pembedaan antara deskripsi ekspositoris dan deskripsi sugestif. Seperti halnya dengan deskripsi sugestif yang ingin mencapai atau menciptakan sebuah kesan kepada para pembaca atau pendengar, maka narasi sugestif juga ingin menciptakan kesan pada para pembaca atau pendengar mengenai obyek narasi. Hal itu berarti, narasi sugestif berusaha untuk memberi suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar.
Tetapi pembedaan antara narasi sugestif dan narasi ekspositoris di suatu pihak, dan perbandingannya dengan deskripsi sugestif dan deskripsi ekspositoris di pihak lain, belum memberi jawaban pada kita apa sebenarnya narasi itu. Bila deskripsi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan sejelas-jelasnya suatu obyek sehingga obyek itu seolah olah berada di depan mata kepal pembaca, maka narasi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. Sebab itu, unsur yang paling penting pada sebuah narasi adalah unsur perbuatan atau tindakan .
Tetapi kalau narasi hanya menyampaikan kepada pembaca suatu kejadian atau peristiwa, maka tampak bahwa narasi sulit dibedakan dari deskripsi, karena suatu peristiwa atau suatu proses dapat juga disajikan dengan mempergunakan metode deskripsi. Sebab itu, mesti ada unsur lain yang harus diperhitungkan , yaitu unsur waktu. Dengan demikian pengertian narasi itu mencakup dua unsur dasar, yaitu perbuatan atau tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu. Apa yang telah terjadi tidak lain daripada tindak-tanduk yang dilakukan oleh orang-orang atau tokoh-tokoh dalam suatu rangkaian waktu. Bila deskripsi menggambarkan suatu obyek secara statis, maka narasi mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu.
Berdasarkan uraian di atas narasi dapat dibatasi sebagai suatu bentuk rencana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu satuan waktu. Atau dapat juga dirumuskan dengan cara lain: narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang terjadi. Narasi berusaha menjawab pertanyaan “Apa yang telah terjadi?”
Tetapi, seperti sudah dikemukakan di atas, antara kisah dan kisah selalu terdapat perbedaan, minimal yang menyangkut tujuan atau sasarannya. Ada narasi yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca, agar pengetahuannya bertambah luas, yaitu narasi eksposotoris. Tetapi di samping itu ada juga narasi yang disusun dan disajikan sekian macam, sehingga kita mampu menimbulkan daya khayal para pembaca. Ia berusaha menyampaikan sebuah makna kepada para pembaca melalui daya khayal yang dimilikinya. Narasi semacam ini adalah narasi sugestif. Dan antara kedua ekstrim ini terjalinlah bermacam-macam narasi dengan tingkat informasi yang semakin berkurang menuju tingkat daya khayal yang semakin bertambah.



BAB III PENUTUP



A. KESIMPULAN
`Berdasarkan isi pembahasan makalah di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa sebenarnya paragraf narasi itu adalah suatu bentuk kisahan mengenai peristiwa atau kejadian berdasarkan urutan waktu atau secara kronologis. Sedangkan jenis-jenis paragraf narasi ada dua yaitu ; (1) paragraf narasi ekspositoris dan (2) paragraf narasi sugestif. Perbedaan wacana narasi dan wacana lainnya terdapat pada tujuan dari wacana tersbut, narsi lebih bertujuan untuk menceritakan kembali, sehingga menimbulkan pengertian-pengertian atau asosiasi yng merefleksikan interpretasi atau penafsiran penuturnya atau penulisnya.

B. SARAN
Apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat suatu keurangan, maka kami sebagai penyusun menerima dengan besar hati apabila ada kritik, dan saran dari pembaca guna kesempurnaan dari makalah-makalah selanjutnya.








DAFTAR PUSTAKA

Asi, Yuliati Eka. BAHAN AJAR MATA KULIAH BAHASA INDONESIA. Palangka Raya, 2010.
Iper, Dunis. BAHASA INDONESIA UNTUK PERGURUAN TINGGI. Palangka Raya, 2010.
Nurachmana, Alifiah., dan Supardi. Laras Ilmiah Bahasa Indonesia. Bandung: ASTRIFA PUSTAKA MANDIRI, 2007.
http://basasin.blogspot.com/2008/09/pengertian-narasi.html

0 komentar:

Poskan Komentar